Senin, 18 Agustus 2014

Mata Pelajaran Geografi untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA)

Mata Pelajaran Geografi untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA)
Latar Belakang

Geografi merupakan ilmu untuk menunjang kehidupan sepanjang hayat dan mendorong peningkatan kehidupan. Lingkup bidang kajiannya memungkinkan manusia memperoleh jawaban atas pertanyaan dunia sekelilingnya yang menekankan pada aspek spasial, dan ekologis dari eksistensi manusia. Bidang kajian geografi meliputi bumi, aspek dan proses yang membentuknya, hubungan kausal dan spasial manusia dengan lingkungan, serta interaksi manusia dengan tempat. Sebagai suatu disiplin integratif, geografi memadukan dimensi alam fisik dengan dimensi manusia dalam menelaah keberadaan dan kehidupan manusia di tempat dan lingkungannya.

Mata pelajaran Geografi membangun dan mengembangkan pemahaman peserta didik tentang variasi dan organisasi spasial masyarakat, tempat dan lingkungan pada muka bumi. Peserta didik didorong untuk memahami aspek dan proses fisik yang membentuk pola muka bumi, karakteristik dan persebaran spasial ekologis di permukaan bumi. Selain itu peserta didik dimotivasi secara aktif dan kreatif untuk menelaah bahwa kebudayaan dan pengalaman mempengaruhi persepsi manusia tentang tempat dan wilayah.

Pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang diperoleh dalam mata pelajaran Geografi diharapkan dapat membangun kemampuan peserta didik untuk bersikap, bertindak cerdas, arif, dan bertanggungjawab dalam menghadapi masalah sosial, ekonomi, dan ekologis. Pada tingkat pendidikan dasar mata pelajaran Geografi diberikan sebagai bagian integral dari Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), sedangkan pada tingkat pendidikan menengah diberikan sebagai mata pelajaran tersendiri.

Tujuan
Mata pelajaran Geografi bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
  1. Memahami pola spasial, lingkungan dan kewilayahan serta proses yang berkaitan
  2. Menguasai keterampilan dasar dalam memperoleh data dan informasi, mengkomunikasikan dan menerapkan pengetahuan geografi
  3. Menampilkan perilaku peduli terhadap lingkungan hidup dan memanfaatkan sumber daya alam secara arif serta memiliki toleransi terhadap keragaman budaya masyarakat.
Ruang Lingkup
Ruang lingkup mata pelajaran Geografi meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
  1. Konsep dasar, pendekatan, dan prinsip dasar Geografi
  2. Konsep dan karakteristik dasar serta dinamika unsur-unsur geosfer mencakup litosfer, pedosfer, atmosfer, hidrosfer, biosfer dan antroposfer serta pola persebaran spasialnya
  3. Jenis, karakteristik, potensi, persebaran spasial Sumber Daya Alam (SDA) dan pemanfaatannya
  4. Karakteristik, unsur-unsur, kondisi (kualitas) dan variasi spasial lingkungan hidup, pemanfaatan dan pelestariannya
  5. Kajian wilayah negara-negara maju dan sedang berkembang
  6. Konsep wilayah dan pewilayahan, kriteria dan pemetaannya serta fungsi dan manfaatnya dalam analisis geografi
  7. Pengetahuan dan keterampilan dasar tentang seluk beluk dan pemanfaatan peta, Sistem Informasi Geografis (SIG) dan citra penginderaan jauh.

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Kelas X, Semester 1

Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
1. Memahami konsep, pendekatan, prinsip, dan aspek  geografi

1.1 Menjelaskan konsep geografi
1.2 Menjelaskan pendekatan geografi
1.3 Menjelaskan prinsip geografi
1.4 Mendeskripsikan aspek geografi
2. Memahami sejarah pembentukan bumi
2.1 Menjelaskan sejarah pembentukan bumi
2.2 Mendeskripsikan tata surya dan jagad raya

Kelas X, Semester 2

Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
3. Menganalisis unsur-unsur geosfer
3.1 Menganalisis dinamika dan kecenderungan perubahan litosfer dan pedosfer serta dampaknya terhadap kehidupan di muka bumi
3.2 Menganalisis atmosfer dan dampaknya  terhadap kehidupan di muka bumi
3.3 Menganalisis hidrosfer dan dampaknya terhadap kehidupan di muka bumi


Program  Ilmu Sosial

Kelas XI, Semester 1

Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
1. Menganalisis  fenomena biosfer dan antroposfer


1.1 Menjelaskan pengertian fenomena biosfer
1.2 Menganalisis sebaran hewan dan tumbuhan
1.3 Menjelaskan pengertian fenomena antroposfer
1.4 Menganalisis aspek kependudukan  
2. Memahami Sumber Daya Alam

2.1 Menjelaskan pengertian Sumber Daya Alam
2.2 Mengidentifikasi jenis-jenis Sumber Daya Alam
2.3 Menjelaskan pemanfaatan Sumber Daya Alam secara arif

Kelas XI, Semester 2

Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
3. Menganalisis pemanfaatan dan pelestarian lingkungan hidup

3.1 Mendeskripsikan pemanfaatan lingkungan hidup dalam kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan
3.2 Menganalisis pelestarian lingkungan hidup dalam kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan


 Program  Ilmu Sosial

Kelas XII, Semester 1

Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
1. Mempraktikkan keterampilan dasar peta dan pemetaan



1.1 Mendeskripsikan prinsip-prinsip dasar peta dan pemetaan
1.2 Mempraktikkan keterampilan dasar peta dan pemetaan
1.3 Menganalisis lokasi industri dan pertanian dengan memanfaatan peta
2. Memahami pemanfaatan citra penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG) *)
2.1   Menjelaskan pemanfaatan citra penginderaan jauh
2.2   Menjelaskan pemanfaatan Sistem Informasi Geografis (SIG)

*) dilaksanakan sesuai dengan kondisi sekolah

Kelas XII, Semester 2

Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
3. Menganalisis  wilayah dan pewilayahan
3.1 Menganalisis  pola persebaran, spasial, hubungan, serta interaksi spasial antara desa dan kota
3.2 Menganalisis kaitan antara konsep wilayah dan pewilayahan dengan perencanaan pembangunan wilayah
3.3 Menganalisis wilayah dan pewilayahan negara maju dan berkembang

E. Arah Pengembangan

Standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Dalam merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian perlu memperhatikan Standar Proses dan Standar Penilaian.

Menyelusuri Sejarah Galangan Kapal

Menyelusuri Sejarah Galangan Kapal
Setelah kemerdekaan nasional, tepatnya pada 1951, beberapa warga Indonesia mulai mendirikan galangan kapal baja, Carya Shipyard, Jakarta, dan mulai membangun kapal baja hingga 500 ukuran DWT. Meskipun galangan kapal ini berukuran kecil, tonggak sejarah industri kapal Indonesia telah ditancapkan.

Hal tersebut bukan tidak terekam dalam jejak sejarah Indonesia, namun hanya belum dipublikasikan secara masif ke seluruh rakyat Indonesia. Betapa pentingnya industri perkapalan di negara beribu-ribu pulau ini, baik melalui kurikulum pendidikan di sekolah, maupun kegiatan yang berbasis kemaritiman.

Menurut salah satu pendiri Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Lepas Pantai Indonesia (Iperindo), Wasono, industri perkapalan nasional awalnya hanya bekas industri perbaikan kapal milik pemerintah penjajah Hindia Belanda. Baru setelah merdeka, seluruh industri tersebut jatuh ke tangan pemerintah Indonesia.

“Pada waktu itu, sebelum tahun 1965, ada dua jenis atau dua bentuk organisasi galangan kapal. Galagan kapal pemerintah (BUMN) dan galangan kapal yang dikelola swasta,” ujar Wasono kepada JMOL saat ditemui di rumahnya, Kamis (1/5) di Jalan Hang Lekiu V No 5, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

“Pak Sularto yang Dirut Galangan Tirta Jaya sebelum tahun 1968 membentuk organisasi Gabungan Galangan Indonesia/GGI, ” katanya.

“Sebelum tahun 1965 belum ada direktorat khusus yang menangani industri perkapalan. Oleh Dekrit Presiden Soekarno maka pada tahun 1965 dibentuklah Departemen Industri Maritim yang dipimpin oleh Pak Mardanus,” tutur Wasono.

Pada saat itu, Departemen Industri Maritim, termasuk Departemen Perhubungan Laut, dan Departemen Perikanan & Pengolahan Laut. Masing-masing dipimpin seorang menteri dan dibawahi oleh Menko Kemaritiman, Ali Sadikin, dalam Kabinet Orde Lama, Dwikora I. Menko Maritim langsung menjadi Menteri Perhubungan Laut, sedangkan Departemen Industri Maritim dipimpin Menteri Mardanus, dan Departemen Perikanan & Pengolahan Laut oleh Menteri Hamzah Atmohandoyo.

“Iperindo pada awalnya dibentuk oleh Departemen Industri Maritim. Menteri Mardanus menunjuk beberapa orang, termasuk saya, agar galangan-galangan kapal di Indonesia, baik pemerintah maupun swasta, berada pada satu organisasi resmi, ” ungkap Wasono.

Pada saat Iperindo telah dibentuk, Wasono menjabat sebagai Sekjen Iperindo dari awal terbentuknya hingga tahun 1993.

Engineer Perkapalan

Dicatat Iperindo, pada 1950-1955, banyak mahasiswa Indonesia yang dikirim ke luar negeri untuk mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk arsitektur angkatan laut modern dan rekayasa kelautan ke Belanda, Inggris, Jerman, Swedia, Italia, Yugoslavia, Polandia, Rusia, dan Jepang. Kelompok pertama lulusan kembali ke Indonesia pada 1957.

“Awal kemerdekaan tidak ada satu pun sarjana teknik perkapalan. Alangkah sedihnya pada waktu itu, sekolahnya tidak ada. Baru tahun 1960 lah Sarjana Perkapalan yang dikirim Presiden Soekarno keluar negeri pulang untuk membangun negeri. Lima belas tahun setelah merdeka, baru kita punya Sarjana Teknik Perkapalan,” ucap Wasono.

Menurut Wasono, Penjajah Belanda memang cerdik. Mereka tidak membangun sekolah maritim di Indonesia, sehingga tidak ada seorang pun yang ahli dalam bidang perkapalan dan kepelautan. Mereka takut kalau Indonesia melawan penjajahan dan menguasai teknologi. Belanda pun menghilangkan pengetahuan perkapalan dan maritim.